Ayah… Aku Jatuh Cinta, Apa yang Harus Kulakukan?

Leave a Comment
Di suatu sore yang indah seorang pemuda sedang asyik mengobrol dengan Ayahnya.

Setelah ngobrol lama ngalor-ngidul, si pemuda akhirnya sampai ke topik tujuan mengapa ia mengobrol dengan ayahnya.

“ehm..yah sebenernyaaa..aku sedang naksir seseorang, aku sedang jatuh cinta yah..tapi aku binggung aku harus ngapain? Aku belum mampu menikah dan pacaran dilarang oleh agama kita” tanya si pemuda serius.

“weleh..weleh..anak ayah sudah besar yaa, sudah bisa jatuh cinta..” jawab sang ayah menggoda.

“Ayaaaah..serius dong! Malu tauk nanya beginian” si pemuda menimpali ayahnya dengan sebal.

“wkwkwk, ululuuh gitu aja ngambek, iya-iya ayah jawab..ayah juga pernah muda seperti kamu kok, ayah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.” Jawab sang ayah sambil melirik istrinya yang sedang menyapu halaman.

“terus kalau sedang jatuh cinta, aku harus ngapain yah?” tanya si pemuda tak sabar.

“nih ada nasehat bagus dari penulis terkenal tere liye tentang permasalahan yang kamu hadapi nak” timpal sang ayah sambil membuka notes di handphonenya.

“udah kamu baca aja nih notesnya.. ayah males jelasin satu-satu ke kamu, kasian juga penulis blog ini, bisa pegel dia bikin dialog kita satu-satu” lanjut sang ayah yang di respon gembira penulis blog ini (baca:saya sendiri wkwk)

“ah gamasalah yaaah.. sini-sini manaaa notesnya? Aku mau baca..” si pemuda langsung merebut handphone ayahnya dan membaca notes tersebut.

Ayah… Aku Jatuh Cinta, Apa yang Harus Kulakukan?
Isi notes itu adalah...

1. Jatuh cinta itu manusiawi. Urusan perasaan, urusan membolak-balik hati itu adalah milik Allah.

Boleh jatuh cinta? Ya boleh, tidak ada ulama dari mazhab manapun yang melarang jatuh cinta kepada seseorang. Apalagi, aduhai, seperti terjatuh, kita tidak pernah tahu kapan jatuh cinta itu terjadi. Tiba-tiba perasaan itu sudah mekar tak berbilang.

2. Lantas, kalau kalian jatuh cinta, so what?

Nah, ini bagian yg menariknya.

Kalian mau menyatakan perasaan itu? Lantas so what? Kalian mau dekat2 dengan seseorang itu? Kalian mau telpon2an, tahu dia sedang apa, apakah bisulnya sudah sembuh, apakah panunya tidak melebar?

Kebanyakan di usia remaja, hingga 20-an something, kemudiannya ini yg tidak jelas. Pacaran? Tidak pacaran? Langsung menikah?

3. Ketahuilah, kita hidup dalam norma2, nilai2, batasan2 yg harus dihormati. Kecuali kalau kalian menolak norma2, nilai2, batasan2 tersebut, silahkan (dan berhenti sudah meneruskan membaca notes ini, karena kalian sudah tidak se-zona waktu lagi dengan tulisan ini).

Itu benar, memiliki perasaan itu kadang serba salah, makan tak enak, tidur tak enak. Itu benar, ada keinginan untuk tahu apakah seseorang itu balik menyukai, keinginan untuk bilang, cemas nanti dia digaet orang.

Tapi kalau hanya ini argumen kalian, oh dear, orang2 sakau, ngobat, lebih tersiksa lagi saat dipisahkan dari hobinya tersebut. Mereka bisa mencakar2, bahkan melukai diri sendiri hingga begitu mengenaskan dan (maaf) is dead.

Saya rasa, seingin apapun kalian jumpa dia, paling cuma nangis, tidak akan mati. Itulah kenapa hidup kita ini punya peraturan, agar semua orang bisa punya pegangan, selamat dari merusak dirinya sendiri.

Saya tidak akan menggunakan dalil2 agama dalam notes ini--karena orang2 yang pacaran, kadang risih mendengarnya. Jadi kita sama2 kuat, saya pakai logika kalian saja.

4. Tapi saya harus bilang agar lega, bagaimana dong?

Ya silahkan saja kalau mau bilang. Tapi camkan ini baik2, cinta sejati adalah melepaskan. Catat itu baik2, tanyakan pada pujangga kelas dunia, hingga pujangga amatiran narsis tere liye, hampir semua bersepakat, cinta sejati adalah melepaskan, lepaskan dia jauh2, maka kalau memang berjodoh, skenario menakjubkan akan terjadi. 

Jadi? Kalau kalian belum jelas so what-nya, lantas kemudian mau apa setelah bilang, maka mending ditahan, disimpan dalam hati. Tuhan itu mendengar, bahkan desah tersembunyi anak manusia di pojok kamar paling gelap, paling sudut, di salah-satu kampung paling terpencil, paling jauh dari peradaban, paling tidak ada aksesnya.

Jodoh itu misteri. Kalau nggak pakai usaha, nanti nggak dapat, gimana dong?

Tentu saja usaha, tapi bukan dengan pacaran. Usaha terbaik mencari jodoh adalah: dengan terus memperbaiki diri.

Nggak paham, kok malah aneh, malah disuruh memperbaiki diri.

Ya itulah, dalam banyak hal, kalau kita nggak nyambung, memang nggak ngerti. Misalnya, banyak orang yang mikir kalau mau dapat ikan itu harus mancing di sungai. Padahal sebenarnya sih, kalau mau ikan, ya tinggal pergi ke pasar ikan. Lebih tinggi kemungkinan dapat ikannya--asumsinya punya uang.

5. Tapi apa salahnya pacaran? Boleh2 saja dong? Saya justeru merasa lebih semangat, lebih kreatif, lebih apa gitu setelah pacaran?

Nah itu dia, kalian benar2 menyimpan bom waktu jika meyakini pacaran itu memberikan energi positif. Pacaran itu bentuk hubungan, dan sebagaimana sebuah bentuk hubungan antar manusia, posisinya rentan rusak, gagal, dan binasa.

Boleh jadi betul, riset canggih akademik membuktikan orang2 pacaran bisa memperoleh motivasi baik, tapi saya, tidak akan memilih menggunakan 'pacaran' sebagai sumber energi, mengingat sifatnya yang temporer sekali.

Mending saya milih kekuatan bulan, jelas2 bulan itu sudah ada milyaran tahun, pacaran paling mentok hitungan jari tangan bertahannya.

6. Baik, baik, lantas kalau tidak boleh pacaran, gimana dong?

Kongkretnya apa yang harus saya lakukan?

jawabannya mudah: Tidak ada yg perlu dilakukan.

jatuh cinta, alhamdulillah, itu berarti tanda kita normal. lantas? Biarkan saja.

Sibukkan diri sendiri dengan hal2 positif, isi waktu bersama teman2, keluarga. Belajar banyak hal, mempersiapkan banyak hal. Hanya itu. Nggak seru, dong? Lah, memangnya kalau pacaran seru? Paling juga cuma nonton ke manalah, pergi kemanalah.

Pacaran itu seolah seru, karena dunia telah menjadi etalase industri entertainment. Pesohor2 menjadi teladan--padahal akal sehat siapapun tahu itu bahkan rendah sekali nilainya. Dari jaman batu, hingga kelak dunia ini game over, pegang kata2 saya: menghabiskan waktu bersama orang tua, kakak, adik, teman2 terbaik selalu paling seru. Apalagi jika ditambah dengan terus belajar, produktif, dsbgnya.

7. Lantas bagaimana saya melewati masa2 galau ini?

Lewati seperti kebanyakan remaja lainnya. Lurus. Boleh kalau kalian mau menulis diary tentang perasaan2 kalian (btw, saya udah coba dan lucu banget kalau lihat tulisan diary saya 3 tahun kebelakang, wkwk).

Boleh galau menatap langit2 kamar. Boleh cerita2 curhat sama teman dekat dan orang tua. Boleh, tapi ingatlah selalu perasaan itu punya kehormatan.

Saya tahu, istilah menjaga kehormatan perasaan ini boleh jadi susah dipahami, tapi itu nyata, orang2 yang bisa menjaga perasaannya, maka se-galau apapun dia, sesengsara apapun dia menanggung semua perasaan, besok lusa, kemungkinan untuk tiba di ujungnya dengan selamat akan lebih besar.

Jangan coba2 berdua2an, jangan coba2 pergi kemanalah hanya berdua, bergandengan tangan, dsbgnya. Itu benar2 menghabisi kehormatan kalian.

8. Nah, bersabarlah. Tunggu hingga kalian memang telah siap.

Jika sudah yakin, silahkan kirim sinyal2, menyatakan perasaan, lantas silahkan libatkan orang tua.

Btw (masih ngeyel), tapi banyak juga orang2 yang menikah tanpa pacaran bercerai, kok. Dan sebaliknya, orang2 yang pacaran malah langgeng? Itu benar.

Sama benarnya dengan banyak orang2 yang mabuk2an, ngobat, tetap saja umurnya panjang. Eh, ada tetangga, alimnya ampun2an, malah meninggal lebih dulu. Harusnya kan kalau mereka melanggar peraturan, langsung ada petir menyambar.

Menikah, membina keluarga, langgeng atau tidak, bahagia atau tidak, boleh jadi tidak ada korelasinya dengan pacaran atau tidak.

Kita mungkin tidak pernah tahu misteri ini, tapi dengan menjalani prosesnya dengan baik, mengakhirinya dengan baik, semoga fase berikutnya berjalan dengan baik.

9. Sungguh jangan habiskan masa muda kalian yang cemerlang hanya sibuk mengurus perasaan.

Masa muda itu sangat penting, lebih baik habiskan untuk sekolah, belajar, dan semua kegiatan yang akan bermanfaat bagi masa depan kalian.

Termasuk jangan lupa, ada keluarga, ada teman2 terbaik loh, bukan cuma pacar. Kalian mungkin tidak bisa melihatnya sekarang, tapi 20-30 tahun lagi, kalian akan ngeh sekali nasehat ini.

Orang2 yang dulu sibuk pacaran, sibuk gaul, memang terlihat keren dan hebat, tapi saat usia mereka melesat 40, 50, situasinya akan berbalik arah.
Pikirkanlah. 

*Tere Liye

***

“Ini yah, aku sudah selesai” si pemuda menutup notes di handphone ayahnya.

“Jadi, sekarang udah tau belum kamu musti ngapain kalau jatuh cinta?” tanya sang ayah penasaran.

“udaah yah, aku udah tau kok! terimakasih yaa udah dikasih lihat notesnya..” jawab si pemuda sambil tersenyum sembari meninggalkan halaman rumah dan masuk ke kamar.

“semoga kisah cintamu menyenangkan nak, seperti kisah cinta ayah dan bundamu dulu” sang ayah berkata dalam hati sambil memandangi wajah istrinya dari kejauhan.

Ah..sore yang syahdu..
Read More...

Bicara Cinta : Agama adalah Hakim

Leave a Comment
Di tengah usia 20+ dimana kita disajikan oleh berita akad nikah teman yang mirip jadwal shalat jumatan seminggu sekali. Dimana ketika ada seseorang yang datang yang bahkan kita tidak tahu siapa dan bagaimana. Dimana ketika kita dibuat bertanya-tanya tentang seseorang yang hadir di pikiran. Maka jadikanlah agama sebagai hakim.

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan beragama seseorang yang sebenar-benarnya saat ini. Hanya mendengar berita atau memperhatikan caranya berpakaian. Selebihnya kita tidak akan tahu jika kita tidak benar-benar mengenal kesehariannya. Karena agama bukanlah sekedar ibadah ritual; banyaknya hafalan, hitamnya jidat, panjangnya jenggot, lebarnya kerudung. Tidak seeksplisit itu. Agama itu ada di dalam hati, melebur hingga menjadi satu kesatuan dalam diri manusia. Menjadi cara berpikir, cara berbicara, cara berperilaku, semuanya termanifestasi menjadi perilaku keseharian.

Bicara Cinta : Agama adalah Hakim
Kita tidak akan benar-benar tahu kehidupan beragama seseorang dan berapa derajat keimanannya di mata Allah. Lalu bagaimana kita bisa menerima seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidup kita? Apalagi bila dia adalah orang yang sama sekali belum kita kenal baik kehidupannya?

Sementara Nabi mengatakan bahwa seseorang (menurutku ini berlaku tidak hanya untuk perempuan) dinikahi karena 4 hal; harta, keturunan, paras, dan agama. Dan dianjurkan memilih agamanya.

Lalu saya bertanya, “Kalau kita bisa mendapatkan keempatnya, mengapa hanya salah satu atau mendapatkan 3 dari 4 kriteria itu? Tidak salah dan tidak berdosa juga kan kita berharap dapat seseorang yang baik agamanya sekaligus cantik/tampan, berketurunan baik, dan kaya?”

Teman saya tersenyum. Di sinilah jawaban itu muncul.

“Seseorang yang memiliki pemahaman agama yang baik, seluruh pemahaman itu akan melebur menjadi dirinya. Ingat bahwa Nabi Muhammad akhlaknya adalah Al Quran kan? Kita dan seseorang yang datang itu bukan Nabi, tapi kita bisa mencontohnya. Seseorang saat ini tidak lagi bisa dinilai dari luarannya saja. Lihatlah bagaimana cara dia berbicara, berperilaku, uji pemikiriannya dengan pertanyaan kritis dan masalah, uji kesabarannya dengan amarah. Kita boleh banget berdoa untuk memiliki pendamping yang memiliki paras yang baik, kaya, juga berketurunan, tidak ada yang salah. Yang perlu kita pegang adalah jadikan agama sebagai hakimnya.”

Saya masih menyimak pembicaraan ini.

“Maksudnya agama sebagai hakim?”

“Kita tidak akan bisa menilai agama seseorang saja dan mengesampingkan yang lain. Hanya karena dia terlihat beragama; rajin shalat, jidat hitam, kerudung panjang, hafalan seabrek. Tapi bicaranya kasar, pemikirannya tertutup, bahkan perilakunya bertentangan dengan tampilan luarnya. Buat apa?”

“Carilah seseorang dengan karakter yang baik, baru kamu lihat agamanya. Kamu hanya perlu ridha dengan agamanya sebagaimana apa yang dikatakan Nabi Muhammad. Artinya kamu cukup ridha bila dia hanya baru shalat wajib dan dhuha, belum banyak hafalannya, belum rajin puasa sunah, kerudungnya belum panjang atau bahkan mungkin belum mengenakan, dll. Karakter baik itu penting dan abadi berada dalam diri manusia. Karena karakter itu tidak dibentuk oleh pelajaran-pelajaran teori.”

“Karena pemahaman agama itu benar-benar menjadi agama ketika terwujudkan menjadi seluruh cara hidup seseorang. Selebihnya dapat dipelajari perlahan. Al Quran saja diturunkan dalam jangka bertahun-tahun, pelan-pelan tidak langsung sekaligus. Seseorang tidak akan menjadi sangat alim, sangat soleh atau solehah dalam hitungan pendek. Semua adalah proses dan itu proses bersama kalian nantinya. Untuk menjaga proses itu berjalan dengan baik, kamu membutuhkan seseorang dengan karakter yang baik”

Saya mencatatnya.

“Jadikanlah agama sebagai hakim, bila dia cukup baik dan cukup memenuhi kriteria mubah/sunah yang kamu buat (misal bisa masak, cantik/tampan, penyayang anak-anak, dll) baru kamu lihat agamanya. Kalau kamu ridha, kamu sudah tahu jawabannya. Bila agamanya tidak baik, percuma kan karakter baik tapi kehidupan beragamanya kamu gak ridha, putuskanlah. Karena hidupnya tidak akan berakhir di dunia saja, masih ada kehidupan setelahnya dan kamu membutuhkan itu.”

Teman saya selesai menjawab. Ku kira dia lebih “ustadz” daripada ustadz di televisi yang hanya haha hihi tanpa esensi. Saya mencatatnya, membaca ulang kesimpulannya.

“Agama adalah hakim untuk menerima atau menolak seseorang dan hakim selalu memutuskan setelah melihat semua komponen yang lain terlebih dahulu”

Bandung, 28 Oktober 2014 | ©kurniawangunadi (kurniawangunadi.tumblr.com)

***

Well, semua tulisan diatas bukan tulisan saya, tapi saya sangat setuju dengan pemikiran teman masgun itu.

Percuma jidat hitam, kerudung panjang, rajin sholat tetapi kasar kepada orang tua, suka membentak dan berbuat curang.

Pemahaman agama tidak se-eksplisit itu, tidak hanya sebatas yang terlihat oleh mata. Pemahaman agama itu menyeluruh dan termanifestasi menjadi perilaku keseharian, menjadi karakter.

Ah.. semoga nanti jika tiba saatnya saya harus memutuskan, saya akan ingat-ingat postingan ini. Karena sampai hari ini saya masih percaya bahwa “Setiap perempuan berpotensi untuk menjadi seorang istri yang baik -bahkan teramat sangat baik-, sepanjang ia tidak salah dalam memilih lelakinya”.

Tengok saja mbak Shireen Sungkar. Pemeran cinta fitri yang awalnya tidak berhijab ini memutuskan untuk berhijab dan berhijrah total setelah menikah dengan mas Teuku Wisnu yang sudah lebih dulu berhijrah.

Adalah keterlaluan menurut saya jika kita menginginkan pendamping yang baik sedangkan kita tidak berusaha untuk menjadi baik.

Dan saya takut jika tidak menjadi baik, maka modal apa yang akan saya gunakan untuk menjadi imammu kelak? membersamaimu dalam proses kehidupan yang panjang #eaaaa
Read More...

Siapkah Kita Menghadapi Quater Life Crisis, Krisis di Usia 20-25 ?

Leave a Comment
Ternyata tidak hanya usia yang bertambah, tidak hanya badan yang bertumbuh. Tapi pemikiran manusia juga ikut tumbuh, masalah hidupnya pun juga ikut semakin kompleks. Fase hidup juga bertumbuh dan hari ini saya merasakan bahwa tulisan saya juga bertumbuh.

Beberapa hari ini saya memutar kembali memori ke tulisan blog di tahun 2012, terutama tulisan dalam tag Opini. Apa yang saya bahas hari ini berbeda dengan yang dulu dibahas. Dan kadang saya melakukannya tanpa saya sadari hingga menemukan benang merahnya.

Akhir-akhir ini tulisan dan Instagram saya temanya sama, merah jambu semua. Tentang cinta dan pernikahan! Bukan berarti saya galau, tapi ada hal-hal yang memang tidak bisa kita hindari di usia fase tersebut. Kalau bahasa ilmiahnya Quater Life Crisis. Krisis di usia 20-25 adalah tentang karir dan keluarga. Dua hal ini hampir bersisian waktunya, antara bekerja dan membangun keluarga.

FYI, tulisan ini bukan murni pemikiran saya, saya banyak dapat inspirasi dari tulisan Mas Kurniawan Gunadi dalam seri tulisan beliau yang berjudul ‘Bertumbuh’.

Teman-teman bisa follow instagramnya di @kurniawangunadi ataupun kepoin tumblrnya di kurniawangunadi.tumblr.com

Lebaran kemarin, topik pembicaraan masih seputar soal mau menjadi apa nanti, mau kerja dimana. Lalu tanpa terasa kini topik sudah mulai berganti menjadi “kapan nikah?”. Semacam itu. Krisis di usia ini harus disikapi dengan bijaksana. Tidak perlu kita mengatakan orang lain galau tentang ini. Saya pun mengalami hal serupa.

Mantra Semua Akan Berlalu selalu saya gunakan setiap menghadapi hal-hal seperti ini, bahwa fase ini pasti akan kita lewati dan kita mungkin esok akan terkejut bahwa tiba-tiba usia kita sudah menginjak 30 tahun dan kita sudah melewati fase meresahkan ini. Baik tentang pekerjaan atau keluarga. Dan kita menoleh kebelakang, entah dengan tersenyum atau sebaliknya.

Hari ini adalah hari yang menakjubkan. Dimana tanpa terasa kita telah melalui lebih dari 20 tahun kehidupan kita dan kita harus melewati fase dimana setiap keputusan yang kita ambil nantinya adalah keputusan-keputusan permanen. Sekali kita mengambil keputusan itu, maka itu berlaku seumur hidup, dunia akhirat.

Ada beberapa hal yang juga ingin saya bagikan kepada teman-teman terkait hal-hal apa saja yang menjadi tantangan dan mantra apa saja yang bisa kita gunakan untuk melewati fase ini.
Siapkah Kita Menghadapi Quater Life Crisis, Krisis di Usia 20-25


1. “Semua Akan Berlalu”

Segala sesuatu pasti akan kita lewati. Kita tentu tidak menyangka bahwa kita sudah lewat fase SMA dimana dulu kita mungkin bertanya-tanya, menjadi apa kita di masa depan, kuliah dimana, dan lain-lain. Bahkan dulu kita takut tidak lulus UN. Hari ini kita sudah sampai pada jawaban dari kekhawatiran kita dulu bahwa apa yang kita khawatirkan ternyata tidak terjadi.

Sama halnya dengan hari esok, siapa jodoh kita, apa pekerjaan kita, kita tinggal dimana, berapa anak kita, kapan kita menikah, dan lain-lain. Jawaban itu ada di masa depan, tidak di hari ini. Dan tugas kita akan mempersiapkan itu semua dengan menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.

Tugas kita adalah mempersiapkan, karena bila jawaban itu datang. Kita sudah siap pada jawaban itu. Allah tentunya akan memberikan sesuatu bila memang hamba-Nya sudah sampai pada kapasitas itu. Kalau kita belum bertemu dengan jawaban pertanyaan-pertanyaan resah itu hari ini, berarti kita sedang diberi waktu untuk mempersiapkan diri dan meningkatkan kapasitas diri kita. Isilah hari ini dengan segala kebaikan dan tunjukkan kepada Allah bahwa kita sudah siap dan kita siap.

2. Lepaskan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Ujian di Quarter Life Crisis berikutnya adalah tentang melepaskan. Untuk tumbuh, seseorang harus bersedia berkorban untuk mendapatkan apa yang lebih baik. Kita tidak perlu mengikatkan diri pada seseorang yang tidak jelas kepastiannya, tidak jelas perasaannya kepada kita, juga tidak jelas bagaimana rencana hidupnya dengan kita.

Kita mungkin ada yang khawatir, bagaimana kalau kita tidak pacaran tapi bisa mendapatkan jodoh. Kita terjebak pada “hubungan tanpa status” atau “ikatan tanpa komitmen” dari orang lain. Perasaan kita terlanjur luluh, terlanjur merasa terikat.

Tapi sejatinya, ikatan itu tidak ada sama sekali. Menjelang usia pernikahan, kita akan diuji dengan kehadiran orang lain. Dan ujian ini tidak sama lagi dengan masa-masa puber dulu. Bahwa ujian ini sudah tidak lagi berbicara tentang perasaan, tapi keimanan dan ketakwaan.

Bagaimana kita lebih mengutamakan ketakwaan diatas perasaan kita. Bagaimana kita bisa memenuhi aturan-Nya tanpa harus melanggar larangan-Nya.

Allah akan menguji kita dengan kehadiran seseorang. Bisa jadi ia adalah jodoh, bisa jadi juga ujian. Tugas kita adalah menjaga diri, menjaga kehormatan, sampai orang yang memang dipersiapkan untuk kita itu datang.

3. Menghargai kesempatan.

Di usia ini juga, rasanya begitu banyak sekali kesempatan datang. Kesempatan pekerjaan, kesempatan karir, kesempatan menikah, kesempatan dengan orang yang baik, dan lain-lain. Sebenarnya, kita sedang diuji pada keteguhan hati. Tidak semua kesempatan yang datang itu harus kita ambil, kadang kesempatan datang hanya untuk menguji keteguhan hati kita.

Untuk yang sudah memutuskan berkomitmen dengan seseorang, ujiannya adalah diperlihatkan dengan orang-orang yang sepertinya lebih baik. Untuk yang sudah bekerja, godaannya adalah kesempatan untuk berpindah-pindah. Dan masih banyak lagi ujian yang akan kita hadapi. Keteguhan hati atas pilihan yang sudah kita ambil akan menjadi ujian yang cukup berat di usia ini.

4. Hati-hati dalam mengambil keputusan. 

Diawal tulisan tadi sudah saya bahas bahwa banyak sekali keputusan di usia ini yang sifatnya permanen. Bahwa sekali kita memutuskan suatu hal, itu akan menggema ke anak cucu kita. Terutama keputusan dengan siapa kita akan menikah.

Maka, mantra pada poin nomor 2 akan sangat berguna. Kita harus hati-hati mengambil keputusan ini. Bahwa orang yang menikah dengan kita nanti akan menjadi orang pertama yang berpengaruh pada dunia dan akhirat kita. Anak-anak kita nanti berhak mendapatkan yang terbaik dan adalah kewajiban kita hari ini, mencarikan yang terbaik. Sosok (calon) ayah dan ibu yang terbaik.

Kalau hari ini perasaan kita sedang diuji dengan orang lain. Kita lebih mengutamakan perasaan kita tanpa memikirkan bagaimana nanti bila dia menjadi pasangan hidup kita, apa kabar nanti anak-anak kita bila memiliki sosok ayah/ibu seperti dia, apa kabar nanti keluarga kita. Apakah lebih dekat ke surga atau ke neraka. Adalah ikhtiar kita hari yang perlu kita optimalkan.

Keputusan menikah dengan siapa tidak lagi semata keputusan pribadi, tapi kita melibatkan (calon) anak-anak kita nanti, melibatkan akhirat kita nanti, melibatkan banyak hal yang mungkin kita lupa mempertimbangkannya hanya karena perasaan kita yang sudah memenuhi hati dan pikiran kita. Hingga tidak ada ruang untuk berpikir jernih.

Padahal untuk membuat keputusan di usia ini, komposisi logika dan perasaan harus seimbang. Pastikan pada saat kita mengambil keputusan, kita sedang dalam kondisi yang tenang, pikiran yang lurus, hati yang bersih. Agar kita paham betul bahwa keputusan tersebut tidak diambil dengan dorongan hawa nafsu. Kita akan mempertanggungjawabkan keputusan itu nanti

Empat hal ini dulu yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman, semoga tulisan ini mungkin menjawab keresahan hati kita. Sekaligus menunjukkan bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang yang sedang berjuang melewati fase ini. Mari menangkan! :)

Dan pesan terakhir :

“Semoga Allah masih menjadi yang pertama :)”
Read More...

Jangan Risau, Hukum Kekekalan Energi Berlaku Kok!

1 comment
“Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain.”

Begitulah bunyi hukum kekekalan energi.

Menariknya hukum kekekalan energi ini tidak hanya berlaku dalam ilmu fisika saja, namun juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam urusan bekerja.

Ketika Anda bekerja, sebenarnya Anda sedang mengeluarkan energi yang pasti tidak akan hilang begitu saja. Jadi bekerjalah maksimal, walau berapapun pendapatan yang Anda terima.

Jangan Risau, Hukum Kekekalan Energi Berlaku Kok!
Artinya tidak akan ada kerja keras yang sia-sia. Semakin keras dan ikhlas Anda bekerja, semakin banyak energi atau hasil yang akan kembali pada diri Anda. Hasil yang dimaksud di sini tentu bukan hanya uang. Hasil yang Anda dapat bisa dalam bentuk kesehatan, ketenangan hidup, kebahagiaan dan hal-hal positif lainnya.

Allah itu Maha Adil. Semakin banyak hal yang Anda kerjakan secara ikhlas dan sungguh-sungguh, maka semakin banyak pula hasil yang akan Anda peroleh.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang di kantor kerjaannya hanya bersantai, ogah-ogahan, dan tidur-tiduran tetapi memiliki gaji yang besar, jauh lebih besar dari Anda yang notabene memiliki pekerjaan yang sangat banyak, bahkan sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran ?

Percayalah, orang-orang seperti itu memang secara kasat mata mendapatkan gaji yang besar, tetapi siapa yang tahu apa yang terjadi di balik semua itu.

Masih binggung ?

Jadi begini, misalnya Anda setiap bulan digaji 5 juta.

Tapi beban kerja Anda membuat Anda harus bekerja keras yang seharusnya Anda digaji 7 juta per bulan.

Ketika Anda berada dalam situasi demikian, sebenarnya Anda telah menyimpan saldo tabungan energi yang keluar sebesar 2 juta per bulan.

Sehingga semakin lama saldo tabungan Anda semakin bertambah.

Jika disetahunkan saldo tabungan Anda menjadi 24 juta.

Sepuluh tahun tabungan menjadi 240 juta dan seterusnya.

Allah sang maha pemberi rezeki bisa mencairkan deposit tabungan tersebut kapan pun Dia mau, misalnya mendadak ada perempuan cantik dan sholihah yang jatuh hati dan menerima lamaran Anda, mendadak dapat beasiswa ke luar negeri, dikaruniai anak yang hafidz Al-quran, dan lain-lain yang nilainya sama persis bahkan melebihi dari saldo deposit Anda.

Begitu pula sebaliknya, seperti kasus yang sedikit saya singgung di awal tadi.

Misalkan gaji mereka 7 juta per bulan.

Tapi mereka bekerja dengan ogah-ogahan seperti orang yang pantasnya hanya digaji 4 juta saja.

Situasi demikian sebenarnya membuat mereka memiliki hutang energi sebesar 3 juta per bulan.

Makin lama hutang makin bertambah. Dan Allah bisa menagih hutang tersebut kapan saja dalam bentuk apapun. Misalnya mendadak sakit dan harus berobat dengan biaya saangat mahal, mendapatkan istri yang pemboros, punya anak yang susah diatur, dan lain sebagainya yang senilai dengan hutang itu.

Jadi, jika selama ini Anda merasa sudah bekerja keras namun belum mendapatkan hasil maksimal, coba Anda renungi lagi.

Apa benar Anda belum mendapatkan hasil? Mungkin Anda sedang berproses ‘menabung energi’ yang hanya Dia yang tahu kapan Anda akan mendapatkan hasil dari ‘tabungan’ itu.

Selamat bekerja keras!

!Ingin lebih dekat dengan penulis ? follow saja Instagram pribadinya di @AlbabAlpachino ^__^

Oh iyaa… share juga pengalaman kamu yang sudah pernah mengalami ‘Hukum Kekekalan Energi’ di kehidupan nyata pada kolom komentar di bawah yaa..
Read More...

Percaya atau Tidak, Inilah Keajaiban Mimpi

Leave a Comment
Hari ini iseng-iseng buka blog, ternyata sudah hampir 2 tahun blog ini tidak tersentuh. Postingan terakhir blog ini ternyata bulan November 2014 yang lalu.

Wah sudah lama juga yaa…

Nah, mumpung hari ini agak longgar di kantor, jadi saya sempatkan untuk menulis. Semoga tulisan ini bisa menghibur sekaligus menginspirasi.

Sesuai judulnya “Percaya atau Tidak, Inilah Keajaiban Mimpi”, postingan kali ini sedikit banyak akan membahas tentang impian dan keajaiban-keajaiban di dalamnya.

Saya mulai tertarik dengan impian setelah melihat video motivasi yang diputar oleh guru BK saya sewaktu SMP. Mungkin beberapa dari Anda juga sudah pernah melihat video ini. Video ini juga tersedia di Youtube kok. Anda mungkin bisa menontonnya terlebih dahulu disini (https://www.youtube.com/watch?v=cXl2q-airyM) sebelum melanjutkan membaca artikel ini, hehe.

Video ini berkisah tentang seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang jauh-jauh datang dari pesisir. Awalnya mahasiswa tersebut mengikuti sebuah acara tarbiyah (semacam pengajian) di masjid dekat kampusnya bersama teman-temannya.

Dalam acara tersebut, sang pembicara ternyata membahas tentang kekuatan dan keajaiban mimpi. Mahasiswa ini menyimak nasihat bijak sang pembicara yang ternyata menjadi sebuah ‘momentum ledakan’ dalam hidupnya.

Pembicara dalam acara tarbiyah itu berkata, “Tuliskanlah mimpi-mimpi Anda secara nyata! Jangan Anda tulis dalam ingatan saja, karena pasti Anda akan lupa. Tuliskanlah secara nyata! Tulislah 100 target Anda di atas kertas hingga suatu hari nanti yang Anda lihat di kertas itu hanyalah sebuah coretan, coretan karena Anda telah mencapainya.

dan itulah yang dilakukan mahasiswa itu. Ia menuliskan 100 targetnya di atas 2 lembar kertas, lalu menempelkannya di dinding kamar.

Banyak yang memandang sebelah mata mimpi-mimpinya bahkan menertawakannya, tetapi ia tetap menempelkan lembaran kertas itu hingga suatu hari ia sadar bahwa satu persatu mimpi itu kini TERWUJUD !

Ketika ia menulis ‘menjadi terbaik di kelas’, 1 tahun kemudian ia menjadi yang terbaik di IPB, bahkan hingga terbaik di tingkat nasional. Orang-orang mengira bahwa IPKnya pasti 4, tetapi ternyata tidak. IPKnya pernah mendapat 2,7, nilai ujiannya pernah C, bahkan mengulang ujian pun pernah, tetapi itu semua tidak menghalangi mimpinya terwujud.

Mimpinya ke-83 yaitu melanjutkan sekolah ke luar negeri. Pada tahun 2007 ia sudah dapat merasakan musim gugur, musim salju, musim semi, dan memanen buah strawberry pada musim panas di negeri Matahari Terbit. Subhanallah..

Mahasiswa ini bernama Danang A Prabowo.

Saat video itu dibuat, Mas Danang sedang mencoba mewujudkan mimpinya yang ke-147, yaitu mengibarkan sang merah putih, lambang IPB dan organisasi-organisasi yang diikutinya di puncak tertinggi Jepang, gunung Fuji.

Semoga terwujud, Mas..

Setelah melihat video itu, saya langsung termotivasi. Saya mulai mengikuti apa yang dilakukan Mas Danang, melakukan apa yang dikatakan pembicara dalam acara tarbiyah itu. Ya, saya mulai menuliskan mimpi-mimpi saya.

Sampai sekarang saya masih percaya bahwa “Sukses itu berpola, begitu pula sebaliknya”. Jika Sang Pembicara dan Mas Danang sudah berhasil mewujudkan mimpinya dimulai dengan menuliskan mimpi tersebut, mengapa tidak saya coba? Begitu pikir saya saat itu.

Dan ternyata disitulah letak rahasia dari mimpi.

Menuliskan impian dan tujuan hidup memang tampak remeh dan tidak berarti, namun ternyata bisa membawa efek besar bagi keberhasilan dan kesuksesan hidup kita.

Hal ini sudah dibuktikan oleh Universitas Yale dengan melakukan penelitian pada semua mahasiswanya angkatan 1954.

Dari semua mahasiswa angkatan 1954, ternyata hanya ada 3% dari seluruh mahasiswa seangkatan yang telah menulis apa yang menjadi tujuan hidup dan impiannya.

Lalu, 20 tahun kemudian, semua mahasiswa angkatan 1954 tadi dibandingkan total kekayaannya.

Ternyata 3% mahasiswa yang menulis tujuan hidup dan impiannya, mempunyai total kekayaan yang jauh lebih banyak dibanding total kekayaan 97% mahasiswa yang tidak menulis apa yang menjadi impian dan tujuan hidupnya.

Anda boleh percaya atau tidak. Tapi Sang Pembicara, Mas Danang, dan saya pribadi memilih untuk mempercayainya.
Percaya atau Tidak, Inilah Keajaiban Mimpi (Instagram @albabalpachino)

Tanpa mengurangi rasa hormat dan bermaksud untuk sombong, itulah beberapa impian yang pernah saya tuliskan 3 tahun lalu. Impian yang masih belum terwujud sampai saat ini, hahaha.

Anda boleh meremehkan bahkan menertawakan mimpi saya, toh dulunya mimpi-mimpi saya yang lain juga hanya diremehkan dan ditertawakan, tetapi alhamdulillah beberapa terwujud dan beberapa diganti dengan yang lebih baik (baca: ga terwujud, wkwk).

Insya Allah impian ke-22 akan terwujud awal tahun 2017 nanti. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa kami sekeluarga. Kami akan merayakan pergantian tahun dengan melaksanakan ibadah umroh. Mohon doanya ya teman-teman..

Alhamdulillah mimpi ke-22 bisa terwujud 2 tahun lebih cepat. Saya memimpikan bisa melaksanakan ibadah umroh bersama keluarga saat usia 23 tahun, ternyata saya bisa mewujudkannya saat usia saya baru 21 tahun. Subhanallah..

Untuk mimpi ke-23 saya sedang mengusahakannya, masih belum mendapatkan cara yang tepat untuk mendapatkan passive income sebesar itu. Doakan saja saat umur 25 tahun saya sudah bisa mewujudkannya. Siapa tau Anda-Anda yang mendoakan saya justru doanya berbalik ke Anda, Aamiin..

Saya agak malu kalau membahas mimpi ke-24, hehe.
Saat ini dengan tinggi badan 175 CM, berat badan saya baru 61 KG, semoga bisa ya umur 22 tahun menjadi 70 KG.

Yang berat ini mimpi ke-25, memang sih saya dulu suka sama dia dan kepengen bisa mengikat janji suci dengannya. Tapi seiring berjalannya waktu, saya sering bertemu dengan banyak orang baru, dengan berbagai karakteristik dan kepribadian yang mungkin lebih baik dari dia.

Ah..ngomongin percintaan emang ga ada habisnya. Tapi di impian itu saya menuliskan “…atau yang lebih baik.” Jika memang dia yang tertulis disana bukan yang terbaik buat saya, saya ikhlas kok. Jodoh kan tidak ada yang tahu. Loh kok jadi baper, hahaha. Ngomongin soal jodoh, Anda juga bisa membaca “Pacaran, Apakah Perlu ?”, artikel yang saya tulis saat SMA, hehe.

Mungkin segini dulu ya post tentang “Percaya atau Tidak, Inilah Keajaiban Mimpi”. Semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi.

Jangan takut bermimpi.
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!” – Andrea Hirata.
Selamat bermimpi.
Read More...