Spesial Hari Ibu

1 comment
Ibu - Spesial Hari Ibu
Hmmm…hari ini hari yang spesial bukan ? yap hari ini tepat tanggal 22 Desember, kita memperingati hari ibu, termasuk gue pribadi. Sebagai seorang anak yang masih punya seorang ibu, gue kepengen banget bahagiain ibu gue (gue lebih suka manggil ibu daripada nyokap, soalnya kalo ibu keliatan lebih ada sopan santunnya, daripada kalo gue panggil nyokap). 

Pagi-pagi gue langsung meluk ibu gue, terus gue cium tangannya sambil ngucapin kata “Selamat hari Ibu, I Love U mom”. Sebenernya sih kata  yang gue ucapin ke Ibu gue itu simple, tapi kata-kata itu menurut gue sarat akan makna. Nah abis itu, gue buka laptop, search lagunya teteh Melly Goeslaw yang judulnya Bundaku, sambil bilang “Bu, lagu ini spesial untuk ibu..”

Jreng..kubuka album biruu, musik melantun dengan syahdu namun tetap merdu. Ibu pun tak kuasa menahan haru, terbawa oleh suasana pagi itu. Ibu meneteskan air mata, gue pun jadi ikutan terharu. Dari mulutnya, beliau berkata “terima kasih, nak”. Hari itu, gue ngerasa, gue bisa berbuat sesuatu yang bisa bikin ibu gue bahagia.

Nah, sobat blogger semua, di hari yang spesial ini, di hari Ibu, gue ada sedikit artikel yang mungkin bisa ngebuka mata hati kita semua akan kebaikan dan jasa jasa ibu kita, sehingga kita bisa lebih menyayangi beliau. Yuk kita simak artikelnya …

Cerita dibawah ini diambil dari sebuah artikel yang gue lupa judulnya…

8 Kebohongan Seorang Ibu Demi Kebahagiaan Anaknya


Kebohongan Pertama

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, ibu tidak lapar”

Kebohongan Kedua

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, ibu tidak suka makan ikan”

Kebohongan Ketiga

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, ibu tidak penat”

Kebohongan Keempat

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, ibu tidak haus!”

Kebohongan Kelima

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku yang membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”

Kebohongan Keenam

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya istirahat dari kerja. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Ibu masih ada uang”

Kebohongan Ketujuh

Setelah lulus S1, aku pun melanjutkan pelajaran untuk ambil gelar master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika, berkat biasiswa dari sebuah lembaga swasta. Akhirnya aku pun bekerja di lembaga itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Ibu tidak biasa tinggal di negara orang”

Kebohongan Kedelapan

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, ibu tidak sakit”

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya...

Nah segitu dulu aja kado spesial dari gue buat semua pembaca blog ini, semoga kita masih bisa diberi kesempatan untuk berbakti dan memberikan sesuatu yang bisa membuat beliau bangga.

1 comment:

  1. saya selalu mengecewakannya,,, dan tidak pernah memberikan hal yang terbaik :')

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkomentar yang baik, karena KOMENTAR atau KATA-KATA itu mencerminkan PRIBADI seseorang